Kamis, 15 Maret 2012

Sinopsis Hikayat " Hikayat Panji Semirang "

HIKAYAT PANJI SEMIRANG


Satu kerajaan yang mana berita tentang Galuh Cendera Kirana yang mana putri  dari Baginda Raja Nata yang amat ta`lim dan hormat kepada orangtuanya  akan bertunangan dengan Raden Inu Kini telah terdengar beritanya oleh Galuh Ajeng . Mendengar berita ini Galuh Ajeng sangat teriris hatinya dan menangislah ia mlihat keadaan ini. Melihat hal ini Paduka Liku yang tak lain adalah ayah dari galuh ajeng sangat menyayangkan hal tersebut. Sangat sedih ia melihat tingkah laku putrinya tersebut.
                Tidak hentinya rasa benci, dengki, serta dendam di dalam hati Paduka Liku sehingga ia berencena untuk membunuh Galuh Cendera Kirana serta Paduka Nata. Ia meracuni makanan yang hendak mereka makan yang mana makanan tersebut telah dipersiapkan oleh dayang-dayang istana. Agar jikalau Galuh Cendera Kirana mati maka pastilah putrinya Galuh Ajeng yang kelak menggantikan posisi Galuh Cendera Kirana untuk ditunangkan dengan Raden Inu Kini begitu pula dengan Raja Nata yang apabila mati, kelak Raja Liku yang akan menggantikan posisinya.
                Dan pada saat tersebut Raja Liku meminta tolong kepada saudaranya yang juga menteri untuk mencarikan baginya seorang yang pandai membuat guna guna untuk mengguna-gunai raja nata serta putrinya. Setelah di dapatkan dari pencarian yang panjang oleh saudaranya tersebut, disampaikanlah kepada Raja Nata apa-apa yang harus dilakukannya kini sesuai dengan psean dari ahli guna-guna tersebut.

UNSUR INTRINSIK DAN EKTRINSIK
1.       Unsur intrinsik :
a.       Tema : Balas Dendam Yang Membara
b.      Alur / Plot :
Ø Si raja liku yang dendam atas perbuatan Raja Nata yang ia rasa tidak adil untuk dirinya serta putrinya sehingga ia rencanakan untuk membunuh Raja Nata serta putrinya agar bisa ia rebut tahta Raja Nata untuk dirinya serta tahta putri Raja Nata untuk putrinya dan dengan guna-guna yang mempermudah langkahnya untuk meraih semua itu.
ØDan cerita ini beralurkan cerita yang maju ke masa yang akan dating.
c.       Tokoh / Perwatakan :
ØGaluh Cendera Kirana : Baik, sopan, ta`lim.
ØGaluh Ajeng : Pendemdam, pengiri, pembenci.
ØRaja Nata : Baik hati,penyayang.
ØRaja Liku : Jahat, pendendam.
ØMentri : Jahat karena mengikuti langkah Raja Liku yang tidak baik.
ØDayang-dayang : patuh terhadap atasan.



d.      Setting dan latar :
ØLatar tempat : Latar tempat yang di gunakan di kerajaan.
ØLatar waktu : Latar waktunya adalah ketika zaman kerajaan dahulu.
ØLatar situasi : Latar situasinya adalah keadaan kerjaan yang tenang, malam yang seoertinya dingin.

e.      Sudut pandang pengarang : Mengarah kepada orang ketiga yaitu yang di perankan oleh orang lain, yaitu pemeran dalam hikayat tersebut.
f.        Amanat : Dalam cerita ini lebih mengarah kepada sifat yang kurang baik yakni dendam dan kebencian. Tapi di sisi lain terdapat satu hal positif yang di tunjukan dari si penulis bahwa sifat atau karakter baik akan mendapatkan sesuatu yang baik juga. Seperti halnya Galuh Cendera Kirana, ia memiliki sifat yang baik, hormat kepada orang tua sehingga sudah sewajarnya jika ia mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya .
g.       Gaya Penceritaan : Cerita ini lebih mengarah kepada cerita zaman dulu atau biasa di sebut cerita rakyat. Bahasa yang dikenakanpun mengarah kepada hikayat, yakni mencakup kepada bahasa melayu bukan bahasa Indonesia lazimnya.
2.       Unsur ektrinsik :
a.       Latar belakang pengarang : Pangarang melihat kejadian tentang ini sehingga ia gambarkan apa yang ia lihat dan fahami dalam bentuk tulisan.
b.      Agama : agamanya beragama budha.
c.       Lingkungan social : Lingkungan social yang kurang baik karena bnyak terdapat perpecahan antara mereka terlebih jelah telah di gambarkan konflik yang jelas terdapat unsur benci, iri dan dendam.
d.      Moral : Moral sang pengarang, disisi lain menunjukan ke sesuatu yang baik, tetapi di sisi lainnya lagi menujukan ke sesuatu yang kurang baik.
e.      Pendidikan : Pendidikan yang baik.

3.       Perbandingan mengenai bahasa yang di gunakan :
a.       Pemakaian Bahasa : Bahasa yang dikenakan tidak mudah dicerna oleh si pembaca. Juga pada pemakaian bahasa dalam novel hikayat ini adalah bahsa yang tidak lazim di dengar pada umumnya dan jarang di gunakan dalam percakapan sehari-hari.
b.      Ciri yang menandai hikayat : Hikayat dalam penggunaan bahsa memiliki karakteristik yang khas tersebab bahasa yang digunakanpun  tidak seperti bahsa Indonesia sediakala.
c.       Masalah penciptaan : Dalam hikayat biasanya tidak jelas siapa penciptanya, begitu juga dalam hikayat ini.
d.      Zaman ketika karya ini di tulis : Hikayat ini ditulis pada abad ke18 dan bahasanyapun bahasa melayu.

Sinopsis Terjemahan "IBUNDA"


IBUNDA
Satu rumah yang ditinjau oleh penduduk sekitar karena kemisteriusan yang hadir di dalamnya. Hingga satu ketika Pelagia dihentikan oleh Begunstov yang tak lain adalah seorang laki laki tua yang selalu tampak rapi. Dimana ia ketika itu mengatakan kepada ibunda yang tidak lain adalah Pelagia dimana ia katakan kepadanya lebih baik untuk menikahan anak-anaknya karena menurutnya itu adalah sesuatu yang lebih baik. Karena melihat kondisi dimasa itu yang kurang baik. Setelah menyampaikan maksudnya Begunstov beranjak dari tempatnya. Begitu juga dengan ibunda. Hingga sekali lagi ia bertemu kembali dengan salah seorang tetangganya yakni Maria Korsunova yang juga mengingatkannya untuk menjaga anak-anaknya. Setibanya di rumah ia menceritakan kejadian kejadian yang ia alami pada hari itu.
Terjadilah perdebatan antara ibunda dengan anak-anaknya  mengenai kritikan yang ia dapat dari teman-temannya. Dan diakhir percakapan pengakuan yang di lontarkan  Chochol yang juga tidak lain adalah anak ibunda bahwa ia saat ini  mencintai seseoran yaitu Natasja . Hingga ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Nataja. Dan mintalah ia pendapat Pavel yang sekiranya berkarakter kependeta-pendetaan.  Tapi Pavel melarang akan hal tersebut hingga terjadi perdebatan antara mereka. Ibunda yang  kini  beranjak dari tempatnya setelah mengalami perdebatan tersebut , dan ia mendengar dari balik dinding kamarnya kemudian  menangis dengan suara kosong dimana ibunda merasa iba mengenai perihalyang di alami anaknya tersebut.
Ketika paginya ibunda yang melihat Chochol mengenakan sepatu lars tua itu mengingatkan kepada Chochol untuk menukar sepatu lars yang kini ia kenakan . Dari situlah Chochol mengerti dan merasakan kasih yang sesungguhnya dari ibundanya itu. Ibunda yang amat sangat ia cintai.

UNSUR INTRINSIK DAN EKTRINSIK
1.       Unsur intrinsik :
a.       Tema : Kasih sayang seorang ibu.
b.      Alur / Plot :
Ø Bermula dari cibiran orang-orang atas anaknya yang kesulitan mendapat jodoh. Yang kemudian membuatnya menjadi sedih akan hal itu sehingga ia mengingatkan kepada anaknya dan hingga perdebatan di antara mereka tersebab Pavel yang tidak setuju akan langkah yang kan di tempuh Chochol. Ibunda yang mendengar hal tersebut iba dan menjerit dalam hatinya tak kuasa mengetahui apa-apa yang di alami anaknya itu. Hingga Chochol di akhirnya menyadari bahwa bukan kemarahan yang tidak ada tujuan yang di lontarkan dari ibunya, melainkan maksud rasa sayang dari sang ibunda yang ia rasakan di esok harinya ketika ibunda mengingatkannya akan suatu hal yang kecil yang idak mungkin dapat di lakukan oleh orang lain kecuali oleh ibu sendiri.
ØDan cerita ini beralaurkan cerita kedepan dan  beralurkan maju.


c.       Tokoh / Perwatakan :
ØPelagia : Ibunda dari Chochol dan Pavel yang sangat menyayangi anaknya tapi tak dapat ia ungkapkan.
ØBegunstov : Lelaki tua yang selalu berpakaian rapih yang sangat prihatin atas prilaku remaja saat itu.
ØMaria Kursonova : Tetangga yang sepertinya kurang ramah terhadap yang lain, terlihat dari cara ia mengingatkan kepada Pelagia.
ØChochol : Karklter yang keras dalam dirinya.
ØPavel : Pribadi kependeta-pendetaan dalam dirinya.
d.      Setting dan latar :
ØLatar tempat : Background yang di gunakan adalah keadaan pedesaan. Tempat di desa, dan waktu yang di gunakan pada hari itu hingga keesokan hrinya tepat di pagi hari.
ØLatar waktu : Waktu yang di gunakan yakni dari hari itu tepatnya dari malam hari hingga pagi hri lagi di esok harinya .
ØLatar situasi/suasana : Situasi dalam cerita tersebut hening, sunyi ,kemudian disaat yang lain pecah dengan pertengkaran dan perdebatan.
e.      Sudut pandang pengarang mengarah kepada orang ketiga yaitu yang di perankan oleh orang lain yang tak lain adalah pemeran dalam tokoh tersebut.
f.        Amanat : Tidak ada seorang ibupun yang tidak mencintai anaknya . Sikap diam seorang ibu bukan berarti tidak memperdulikan anaknya, mungkin ia hanya ingin kita bersikap dewasa. Yang sesungguhnya ibu manapun pasti akan menyayangi anak-anak yang telah  ia lahirkan dengan susah payah.
g.       Gaya penceritaan : Novel yang ditulis ini  bergayakan cerita yang memiliki makna yang sulit untuk di fahami karena cerita yang di uraikan berupa terjemahan  yang bergayakan bahasa novel terdahulu. Dan perlu berulang kali untuk memahaminya.

2.       Unsur ektrinsik :
a.       Latar belakang pengarang : Pengarang pernah merasakan hal tersebut sehingga bias ia tuangkan dalam tulisan.
b.      Agama : agama yang di anut oleh si pengarang adalah agama atheis.
c.       Lingkungan social : Dia tinggal di dalam keluarga yang saling bahu membahu, di lingkungan sekitar yang kurang menguntungkan, karena penduduk sekitar yang sudah menilai mereka dengan nilai yang tidak baik.
d.      Moral : Moral sang pengarang, disisi lain menunjukan ke sesuatu yang baik, tetapi di sisi lainnya lagi menujukan ke sesuatu yang kurang baik.
e.      Pendidikan : Pendidikan yang baik.


3.       Perbandingan mengenai bahasa yang di gunakan :
a.       Pemakaian Bahasa : Bahasa yang dikenakan pada novel ini adalah bahasa yang tidak lazim di gunakan dalam Bahasa Indonesia pada umumnya. Karena dalam pelajaran Bahasa Indonesiapun tidak menggunakan bahasa yang seperti ini. Novel ini lebih mengarah pada bahasa yang perlu diterjemahkan ulang untuk memahaminya.


b.      Ciri yang menandai novel :
ØNovel ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak mudah di serap oleh si pembaca karena dalam pemakaian bahasa novel ini menggunakan bahsa yang memang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
ØDan penggunaan nama yang jarang digunakan oleh pengarang novel modrn dalam penokohan.
ØBahasa yang di lontarkan dalam percakapan meraka. Gaya bahasa yang jarang dikenakan dalam percakapan bahasa Indonesia pada umumnya.
ØPendidikan : si pengarang berpendidikan baik.
c.       Masalah Penciptaan : Pada novel ini jelas diketahui siapa penciptanya. Karena pada dasarnya semua novel yang ditulis jelas siapa pengarangnya. Terkecuali dalam hikayat.
d.      Zaman ketika novel ini ditulis : Novel ini ditulis pada zaman modrn sehingga bahasa yang digunakanpun tidak jauh dalam kehidupan sehari-hari, meskipun harus di tejemahkan ulang untuk memahaminya.

 Mutiara Hikmah 


      Jika saya mengubah FIKIRAN saya, maka saya mengubah KEYAKINAN saya
      Jika saya mengubah KEYAKINAN saya, maka saya mengubah HARAPAN saya
      Jika saya mengubah HARAPAN saya maka saya mengubah SIKAP saya
      Jika saya mengubah SIKAP saya, maka saya mengubah TINGKAH LAKU saya
      Jika saya mengubah TINGKAH LAKU saya, maka saya mengubah KINERJA saya
      Jika saya mengubah KINERJA saya, maka saya mengubah NASIB saya
      Jika saya mengubah NASIB saya, maka saya mengubah HIDUP saya

- Created by Max Scorpio -


                  


Minggu, 04 Desember 2011

Segores Tinta Pengantar Asa

 
Dinginnya malam disertai angin yang saling sapa menyapa menghieforiakan suasana kelam alam serta memecahkan keheningan anak cucu adam. Tenggelam bersama bintang gemintang hanyut bersama cita dan asa, impikan berjuta angan penawar letih menghadapi persoalan.
Berawal dari goresan itu.
*Al-Madinah International University will be mine. Believe His magic wherever whenever however* .

Goresan kala itu mengantarkan Fazha pada sosok yang mendamaikan jiwa, penawar lara, terbenam bersama asa, tempat yang teduh mengistirahatkan masa.
Terbangun ia dari tempat persandarannya. 03.00 AM menjelaskan segalanya. Apa-apa yang menjadi kebiasaannya. Beranjak dari tempat tidurnya menyambangi kamar kecil untuk mengambil air wudhu kemudian menunaikan sholat sunnah tahajjud untuk menyapa yang maha kasih ia sang Maha cinta. Di sela perenungannya terhadap diri, merenung dihadapan yang Maha kasih, meluapkan segala amuk hati, emosi kolbi, memohon solusi mengikhlaskan hati dan diri untuk menjalani hari. Dengan segala kerendahan hatinya diiringi seuntai do`a yang sederhana * ya Allah engkau yang Maha Cinta, cintailah hamba ini dan jadikan hamba seorang yang kaya akan hati dan ketulusan karenaMu ..*
Kegiatan-kegiatan rutin ini dicontohnya dari sang ayah dan ibu yang menjadi inspirasinya dalam memaknai diri. Terutama sang ibu yang selalu mengingatkannya akan sholat-sholat penyejuk hati pelipur lara itu, tempat berteduh dari segala ketertatihan nurani dalam pencapaian jati diri. Dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur`an sambil menunggu kumandang adzan yg mengisyaratkan tibanya waktu subuh. Malaikat-malaikat Allah bertaburan di bumi seraya mengaminkan setiap pengharapan pengharapan umat dalam setiap do`anya.
Begitu juga Fazha yang tidak ingin melewatkan masa mustajab itu. Mencoba khusyu dalam pengharapannya, ia panjatkan seluruh permohonannya. Dalam untaian do`anya “ ya Allah ya tuhanku ampunilah dosaku, dosa kedua orangtuaku , sayangilah mereka layaknya mereka menyayangi hamba di masa kecil.. ya Allah ya tuhanku berikanlah apa-apa yang terbaik di dunia juga apa-apa yang terbaik di akhirat serta jauhkan kami dari api nnerakamu.. ya Allah ya tuhanku masukkanlah aku beserta kedua orangtuaku,keluargaku,kerabatku,sahabatku,teman-temanku dan untuk semua muslimin muslimatmu ke dalam syurgamu bersama orang-orang baik.. amin Allah ya Rabbal`alamin..”. ia selesaikan setiap pengharapannya dengan bersujud kepada sang Maha cipta yang ia sadari merupakan sebuah penunjang dalam setiap asanya.
Selesai dari pnyejukannya beranjak ia membuka buku mempersiapkan apa-apa yang akan dipelajari di kelasnya kelak. Fazha seorang siswi kelas 12 SMA di sebuah sekolah kecil dengan tekad yang besar. Ia seperti teman-teman yang lainnya, suka bergurau, bermain, bercerita dll. Tetapi dengan berjuta warna yang ia icapi, Fazha menjadikan dirinya pemudi yang disiplin, meyituasikan keadaan pada tempatnya,  bertekad unggul dalam segala hal dan pencapain juga pribadi yang rendah hati dengan segala kekurangannya. Dalam hal kedisplian selalu fazha prioritaskan tersebab ingatan mengenai petuah petuah yang ia dapati dari ibunya yang selalu mengingatkannya tentang waktu. Ibunya berujar “caca.. alwaqtu kassaifi,fainlam taqto`hu qoto`aka.. waktu itu seperti pedang, jika kamu tidak membuhnya maka ia yang sigap membunuhmu”. Petuah itu selalu menyelubungi fikiran, ia jadikan motifasi dalam setiap tindakannya. Oleh sebab itu tidak heran ia dinobatkan sebagai siswi teladan di sekolahnya. Hingga ia larut dalam memahami apa-apa yang ia fahami, pelajaran-pelajaran yang harus ia fahami yang di yakini sebagai modal hidupnya di dunia dan akhirat. Sampai tiba ia pada setitik cayaha dari ufuk barat menandakan waktu duha telah menyapa. Dengan sigap tanpa membuang waktu ia siapkan seluruh keperluan untuk sekolahnya, dari buku , seragam hingga sepatu juga almamaternya. Selesai dengan semua itu tak lupa ia kunjungi waktu duha dan lagi bersimpuh pada Illahi memohon dimudahkan dalam setiap rizkinya, rizki yang halal, menyehatkan dan medamaikan. Allah yang Maha baik menganugrahinya sifat ramah, bijaksana, rendah hati, cerdas juga ulet yang membuat teman dan sahabat sangat mengagumi sosok seorang Fazha Azkia ini. Tiba ia bergegas menuju sekolahnya dengan menyambangi tema-temannya yang berjalur searah hingga d sekolah.
Suaranya yang lembut bersahut-sahutan dengan kicau burung yang menikmati indahnya karya sang Maha Karya Allah subahanuwata`ala. Tiba di depan teras kehijauan itu “Maya .. Maya .. Maya ..” Fazha mengisyaratkan untuk berangkat bersama-sama dengannya.
Maya keluar dari permadaninya, dengan rapihnya ia berseragam tampak anggun dengan hijab yang ia kenakan. Wanita sederhana dengan keanggunan yang menyelimuti. “Fazha, kamu tampak rapih sekali dan sangat bersemanga pagi ini” dengan senyum merona memuji sahabat karibnya itu.
“Tentu seperti itu seharusnya, menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya merupakan satu point plus” balas Fazha dengan penuh senyum jelasnya. “Mari kita bergegas menjemput Vey, Fifi kemudian Azizah” ajaknya.
Bergegas mereka menuju rumah yang lainnya mengejar waktu agar tiba tepat pada waktunya. Setiba di rumah Vey yang bercorakan kuning senja keemasan, ibu Vey menjelaskan “Vey sudah pergi lebih awal tadi dan menunggu nak Caca juga nak Maya di kediaman Azizah”. Dengan berseri Fazha menyahut “trimakasih ibu, kami berdua berangkat bu” lekas pergi dengan restu lembut dari ibu Vey. Bergegas mereka menuju rumah Azizah sebab semua berkumpul di kediaman Azizah. Setibanya di kediaman Azizah saling sapa menyapa menjalin silaturrahim pengikat tali persaudaran melukisdkan indahnya dalam persaudaraan islam.
Setelah berkumpul sesaat bersiap mereka berangkat ke sekolah hendak menuntut ilmu, sesuai yang di ajarkan Ibu Bintan Imama, “uthlubil `ilma walau bissin” , :tuntutlah ilmu meskipun ke negri Cina. Mereka yang tiba d sekolah bergegas masuk kelas masing-masing dan memulai membaca buku-buku yang sekiranya akan di ajarkan guru nanti, mengisi waktu luang yang kosong tersebut. Dan pelajaran yang di nantipun tiba. Luar biasanya sekolah ini, sekolah ini menyelipkan unsur budaya yang sangat kental dengan negri timur sana, dan pelajaran yang paling d gemari mengenai pribahasa pribahasa dalam bahasa arab ini yang deknal dengan mahfudzot. Sesungguhnya yang lebih menyenangkan dari pelajaran ini adalah gurunya yakni Ibu Bintan Imama , motifator yang sangat membuming di setiap pesan pesang penyejuk jiwanya.
Dan seperti biasanya 15 menit di akhir pengajarannya tentang pribahasa dalam bahasa arab Ibu Bintan memberikan pencerahan mmengenai asa dan masa. Sungguh menarik , “Asa dan Masa” **
Semua mata tertuju padanya. Dimulai dengan ciri khas yang biasa guru ini tonjolkan, yakni ya akhwati amuroh .. itulah pesan pembuka untuk saudara saudara yang imut. Dengan leburnya canda tawa di antara mereka satu pertanyaan telah tersebut dari ibu Bintan, “apakah kalian memiliki hal yang sangat ingin kalian wujudkan di masa depan kelak?”. Pertanyaan yang sangat sderhana adanya, lumrah hakikatnya, tapi ini sesungguhnya menjelaskan apa dan seperti apa masa depan yang diinginkan dari setiap diri.  Hening sejenak berfikir pertaanyaan yang biasa-biasa saja, fikir audiens laksana dalam aula yang sedang memberika motifator-motifator sederhana tapi bermakna dengan tujuan merubah masa depan bangsa. Keheningan dipecahkan dengan pertanyaan sang ibu yang dua kalinya menjelas “ ada yang ingin menjawabnya?”. Dan dua kalinya diam menjelaskan jawaban dari siswa siswi sekalian. Ibu Bintan pun berkisah tentang impi dan harap yang ia pendam selama ia hidup. “ saya pun sama seperti kalian, saya anak cucu adam, manusia seperti yang lain, saya memiliki banyak salah dan khilaf , itu betul .. tapi disisi lain apakah salah khilaf itu menghalangi saya untuk berhenti disatu titik tentang impian, salah dan khilaf itu menstopkan semua mimpi dan asa saya? Tentu tidak.” Jelasnya .
“Saya memilki cita dan asa yang tinggi, yang amat sangat ingin saya wujudkan dan apresiasikan, dan ternyata semua itu bermuara hingga lubun ini, dalamnya hati yang amat dalam. Dan apabila ada yang berucap, mimpi saja kamu tinggi tinggi toh itu cuma mimpi, resapilah itu merupakan tantangan untuk anda semua terutama untuk saya bagaimana sebuah mimpi tidaklah sekedar mimpi. Jangan takut untuk bermimpi tetapi sebaliknya bermimpilah kamu sebanyak kamu ingin bermimpi, tuliskan impi dan asamu, tuliskan apa yang menjadi harapan-harapanmu itu, sesungguhnya bermula dari tulisan-tulisan itu atau kasarnya coret-coret dengan berjuta angan kita. Setiap yang ada disekitar kita merupakan magic, terlihat konyol tapi magic itu ada, ada sebab diselipi effort nyata dan do`a  sepanjang masa”, jelas ibu Bintan. “Berkaca dari sahabat kita dan ini merupakan penggalan kisah nyata, dari kekuatan jejak-jejak mimpi, yang tertulis dalam lembaran kertas berisi masa depan, dia adalah seorang anak perantauan yang ingin belajar di Campus Ambassador Institu Pertanian Bogor dengan ketulusan sang ibu juga dengan harapan yang menjulang tinggi disertai basmalah  Bismillahrrahmairrahim, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang meminta ridho Allah dengan keyakinan yang sangat melekat dihatinya. Pergilah ia dengan ongkos seadanya dan dengan tekad yang sangat besar. Hingga ia tiba di satu Anaba DKM al-Huriyah Bogor, ia mendengar masukan dan motifatis dari salah satu pembicara tentang menulis. ‘Nun. Demi Pena dan Apa Yang Mereka Tuliskan’ , itu merupakan petikan firman Allah yang memperjelas bahwa dalam keadaan bagaimanapun, dimanapun, kapanpun menulislah kalia sebab dengan menulis mempernyata apa yang nak menjadi cita dan asa itu”. Sewaktu itu sahabat kita ini menyimak dengan seksama yang disampaikan oleh salah seorang pembicara, pembicara menjelaskan ;
“ jangan takut untuk bermimpi, tuliskan mimpi-mimpi anda secara nyata, jangan anda tulis hanya dalam ingatan anda saja sebab pasti akan lupa, tuliskanlah secara nyata”
“ tulislah 100 target anda di atas kertas “
“ hingga suatu hari nanti, yang anda lihat dari 100 coretan itu hanyalah coretan, coretan karena anda telah mencapainya “
Sederhana amat sederhana dan pemuda itupun menuliskan setiap yang menjadi mimpi mimpinya dalam 2 lembar kertas dan menempelkannya. Hingga suatu saat teman-temannya yang melihat hal itu mentertawakan ia, tetapi ia tidak memperdulikannya. Ia terus menuliskan mimpi-mimpinya dan berusaha mewujudkan satu persatu dari mimpi-mimpinya hingga satu waktu ia tidak menyadari telah mencoret satu persatu mimpi yang telah ia capai. “Seindah apapun rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita” – DAP . seindah apapun yang kita impikan ternyata lukisanNya lebih menakjubkan mengalir indah dalam do`a. Rencana Allah yang tak terduga .
“Lalu target ke-83, yang pemuda itu tuliskan adalah- ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri- dengan berhasilnya mengantarkan ia untuk menjejakkan mimpi-mimpinya di negeri sakura, negeri matahari terbit. Untuk bisa merasakan musim gugur (Aki), musim salju (fuyu), musim semi (haru) dan musim panas (natsu).”
“Sekali lagi, maka nikmat Tuhan-mu manakah yang kamu dustakan?
“Pencapainnya kita adalah sebaik-baiknya sikap kita. Dengan baiknya sikap kita tidak ada sedikitpun rasa menyombongkan diri atas apa yang telah kita capai, dan sesungguhnya We are put in situations to build our character. Not to destroy us!!! – Nick Vujicic”. Itu.
“Dan dengan masa, kita yang meminjam umur kepada sang pemilik waktu Allah swt, jangan lupa manfaatkan dengan sebaik mungkin sebab jika waktu telah berhenti tanpa kita sadari, bukan lagi mimpi-mimpi yang akan menyertai kita tapi amal-amal yang belum tentu cukup menemani kita di setiap hidup setelah kehidupan ini”. Jelas ibu Bintan
Masukan yang bagus dan menarik dan mencoba untuk melakukan hal yang sama berharap dewi fortuna berpihak pada diri. Selesai mendapati masukan masukan positif tadi setiba dirumah segera mencoba sesuatu yang dianggap Fazha merupakan sesuatu yang magic. Dia mencoba melakukan hal hal yang dilakukan seperti yang Ibu Bintan ceritakan. Dengan basmallah ia ambil secarik kertas pengantar asa itu kemudian ia catat setiap mimpi-mimpi yang ada, dimulai kuliah sehabis SMA di Unpad fk HI, kemudian kemudian menginginkan gelar doctor setelah selesai S1nya, kemudian naik haji, kemudian dan seterunya hingga ia mencapai terhadap impinya yang ke-94 yakni bekerja, berkeluarga serta menetap di Makkah Al-Mukarramah.
“Berfikir keras, berusaha keras, berdo`a keras” begitulah prinsip yang menghidupkan setiap cita dan asanya. Pesan dari sang motifator Ibu Bintan Imama. Selalu ia usahakan apa yang ia bisa, diiringi do`a di setiap nafasnya, dan mengembalikan segalanya kepada sang Maha Cinta, yang ia selalu berkeyakinan bahwa dirinya  dicintai oleh sang Maha Cinta. Dari setiap mimpi-mimpi yang telah menjadi realita, yang telah meleburkan segala batas antara asa dan masa selalu ia berucap “Alhamdulillah” dan terbesit di dalam benaknya bahwa sesungguhnya kesyukuran bukanlah sebuah finalitas melainkan sebuah bidayah. Begitulah ia memaknai hidup sehingga selalu dan terus melangkah pasti dengan secarik kertas magicnya yang membawa ia kepada kepastian Allah yang Indah. Waktu terus bergulir dengan detik detik yang selalu mengikuti, selalu membuntuti detiknya diri yang mustahil untuk kembali juga di perbaiki. Setiap fenomena yang telah ia lalui ia jadikan sebagai pembelajaran dan berusaha tidak kembali kemasa silam yang menyalahi diri. Terus menulis dan berkaya, itulah hal yang menyelimuti hari bersama mimpi, hobi, juga meluapkan setiap emosi dalam diri untuk merangkai indahnya warna kehidupan hari.
20 tahun bergulir dengan serangkaian pengalaman dan manis pahit kehidupan yang telah dilaluinya, keberuntungan atas takdir Allah silih berganti menemani, dan kini Fazha berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya. Benar firman Allah dalam QS.Al-Qalam(61) ayat 1 tentang masa dan menulis. Dan sekali lagi ”nikmat Tuhan-mu manakah yang kamu dustakan?”.
Hobi yang tidak sengaja tersiratkan dalam hati , seiring bergulirnya waktu tersuratkan dalam seuntai kisah seorang anak perantauan dan pada akhirnnya tidak lagi menjadi sekedar hobi tetapi menjadi sebuah mimpi, sepanjang berjalannya masa akhirnya mimpi-mimpi itu terealisasi , sungguh kuasa Allah. Kisah penuh hikmah membawa kedalam kedamain, memperjelas firman Allah , “Kun.Fayakun” “Jadi.Maka jadilah”
Subhanallah ….

Jumat, 02 Desember 2011

Tersayat Hati Tersebab Berlebihnya Arti

Kepudaran
Mencintamu anugrah untukQ
Awal yang mengindahkan hariQ
Memilukan akhir hariQ

Saat itu kau datang menyapaQ.. Larut dalam keheningan rasa.. Hanyut dalam rangkaian cerita.. Melukis cerita cita dan asa ..
Cinta yang semakin hari menghadirkan rasa yang menggebu.. Sungguh rasa yang tak lekang oleh waktu..
Rasa yang setiap masanya meyelebungi hati kecil ini.. Menolak cinta yang lain percaya terhadap cinta yang kau beri..
Kau menyapaQ mengindahkan pertemuan kita yang pertama.. Mula yang menyakitkan.. Kau memintaQ memilihkan kekasih hati bagimu.. Sejak saat itu Q pergi dan menghilang darimu.. Tapi benar sulit menghapus rasa yang tertanam dan tumbuh di lubuk hati ini..
Q kirimkan pesan terakhir untukmu “ Biarlah” .. “semua yang berlalu tlah menjadi kenangan,dan seakan ku lupakan karena ku ta` sejalan,dan ta` mungkin Q bertahan meski tlah Q coba,semuanya tak berguna terbuang sia-sia”
Senandung pelipur lara dalam ketertatihan hati ini melukiskan segala .. Dan tak mungkin ku bertahan, semuanya terbuang sia-sia..
Berakhir kisah cintaQ yang pada nyatanya bertepuk sebelah tangan..
“Dirimu di hatiku sudah terlalu lama.. dan biarlah Q mencoba untuk tinggalkan semua”

Hilang semua cita dan asa yang telah terukir dulu..
Kau pergi dan bahagia dengan pilihan hatimu..
Seuntai kata terucap lirih .. Aku harap kau bahagia dengan pilihan hatimu.. Biar aku pergi dengan rasa cinta yang tak terbalaskan ini.. Anggaplah aku bukan siapa siapa untukmu dan kamu hanya seseorang yang pernah melintas dihati tanpa kenangan yang berarti..

Jumat, 25 November 2011

Ikhlas = Tak terhingga ~


aku yang letih dalam kemelut hari
aku yang tertatih dalam pencarian arti
aku yang bersedih tersebab rapuhnya diri

terbayang hari tanpa keikhlasan berarti
hari hari yang di lalui bermaknakan sejuta misteri
memandangi diri penuh rasa benci


*sederhana tetapi misteri dan inilah sebuah keikhlasan ..

Hei semua.. ada satu hal dari orang yang sangat berhal-hal pentingnya untukku hari ini. Beliau memaparkan bahwa ikhlas yakni bertindak karena Allah. Mengapa demikian? 
Kala itu aku bertanya panjang lebar urgensi daripada ikhlas. Dengan simplenya beliau menjawab bahwa ikhlas adalah bertindak karena Allah, *mohon digaris bawahi

Ikhlas = Bertindak Karena Allah

Kala itu aku di bebani beban yang teramat membebani pundakku. Mencari cari alasan untuk menguatkan keyakinanku mengapa a mengapa b dan seterusnya. Menyangkal segala sesuatu yang dipaksakan seperti apapun tetapi tetap bahwa takdir sudah menjawab. Kecewa jelas, marahpun iya. Tapi? Berhakkah kita bertindak sekonyol itu padahal Allah sudah memposisikan kita di tempat yang terbaik menurutNya? Alhamdulillah, kala itu aku niatkan lillah, meski hasil yang dicapai tidak sesuai harapan, tapi karena dimulainya lillah (karena Allah) maka apapun yang terjadi harus memastikan hati agar menerima dengan penerimaan yg baik, mengaminkan hal hal yg tidak sesuai dengan harapan, yang terpenting mengingat kembali, ini adalah mau Allah, maka itulah yg terbaik.

in sha Allah, dengan mengikhlaskan apapun yang telah Ia rencakan untuk kita, si penulis skenario teramat indah, Allah swt, hidup yang membaik, yang bersinergi dengan haluan juga tentunya menjadi kado terindah pemberian Al Wadud, Allah sang maha cinta

Yuk ikhlas, diniatkan karena Allah 

~